Oleh: Ekki Kurniawan (07 Agustus 2007)
“Pandangan saya telah berubah, karena energi nuklir adalah satu-satunya sumber listrik yang tidak memancarkan gas rumah-kaca, yang dapat secara efektif mengganti bahan-bakar fosil, guna memenuhi permintaan energi yang semakin bertambah” (Patrick Moore)
Diterjemahkan dari naskah asli:
Moore. Patrick, Nuclear Re-Think, IAEA Bulletin, Volume 48/1, September 2006, www.iaea.org
Di awal tahun 1970-an sewaktu saya membantu mendirikan Greenpeace, saya percaya bahwa energi nuklir itu sinonim dengan bencana nuklir, sama seperti pendapat rekan-rekan seperjuangan saya. Keyakinan itu telah mengilhami perjalananGreenpeace yang pertama ke pantai karang Barat-Laut untuk memprotes percobaan bom hidrogen di Kepulauan Aleutian di Alaska.
Tiga puluh tahun berlalu, pandangan saya telah berubah, dan seluruh gerakan pro-lingkungan kiranya perlu memutakhirkan pendapatnya juga, karena energi nuklir adalah satu-satunya sumber listrik yang tidak memancarkan gas rumah-kaca, yang dapat secara efektif mengganti bahan-bakar fosil guna memenuhi permintaan energi yang semakin bertambah.
Marilah kita kaji pemancar gas rumah-kaca yang terbesar di dunia: batubara. Biarpun batubara memberikan listrik murah, tetapi pembakaran batubara di seluruh dunia menciptakan sekitar 9 milyar ton CO2 per tahun, yang sebagian besar akibat dari pembangkitan listrik. Pembangkitan listrik yang membakar batubara menyebabkan hujan asam, kabut-asap (smog), penyakit pernafasan, kontaminasi merkuri, dan memberi kontribusi utama pada peningkatan konsentrasi gas rumah-kaca dunia.
Di lain pihak, sebanyak 441 PLTN yang kini beroperasi di seluruh dunia telah menghindari emisi hampir 3 milyar ton CO2 per tahun - yang setara dengan gas-buang yang berasal lebih dari 428 juta mobil.
Untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap batubara, kita harus bekerja bersama mengembangkan infrastruktur energi nuklir secara global. Energi nuklir itu bersih, sepadan dalam hal ongkos (cost effective), dapat diandalkan dan aman.
Di tahun 1979 Jane Fonda dan Jack Lemmon keduanya telah memenangkan piala Oscar untuk perannya dalam “The China Syndrome“. Di dalam film tersebut, sebuah reaktor nuklir mengalami pelelehan yang mengancam kehidupan seluruh kota.
Duapuluh hari setelah film dahsyat itu diputar-perdanakan, sebuah pelelehan reaktor di Three Mile Island benar-benar telah menggetarkan seluruh negara.
Pada waktu itu tidak seorangpun memperhatikan bahwa Three Mile Island itu sebenarnya adalah sebuah kisah sukses. Struktur beton yang membentuk sungkup reaktor (kontenmen, containment) telah menunaikan tugasnya dengan baik: bangunan sungkup telah menghalangi keluarnya radiasi ke lingkungan. Biarpun reaktor menjadi tidak berfungsi, tetapi tidak ada korban luka atau meninggal di antara publik maupun pekerja nuklir.
Di Amerika Serikat, hari ini terdapat 103 reaktor nuklir yang diam-diam menyajikan 20% kebutuhan listriknya. Sekitar 80% penduduk di sekitar PLTN sampai jarak 10 km menyetujui kehadiran PLTN-mereka. Tingkat persetujuan yang tinggi itu tentulah tidak termasuk pekerja PLTN yang memiliki kepentingan dalam mendukung pekerjaan mereka yang aman, dan bergaji tinggi. Biarpun saya tidak hidup dekat dengan PLTN, tetapi sekarang saya praktis berada di pihaknya.
Saya bukanlah sendirian di antara aktivis dan pemikir lingkungan kawakan yang telah dan tengah berubah pikiran dalam subyek ini.
-
James Lovelock, bapak dalam teori Gaia dan ilmuwan atmosfir terkemuka, percaya bahwa energi nuklir adalah satu-satunya energi yang menghindari perubahan iklim yang mendatangkan bencana.
-
Steward Brand, pendiri dari The Whole Earth Catalogue dan pemikir ekologi holistik, mengatakan bahwa gerakan lingkungan haruslah merangkum energi nuklir untuk mengurangi ketergantungannya terhadap bahan bakar fosil.
-
Almarhum Bishop Hugh Montefiore, pendiri dan direktur Friends of the Earth Inggris, dipaksa mengundurkan diri sewaktu dia menyajikan sebuah artikel pro-nuklir dalam sebuah lembaran-berita gereja. Pendapat seperti itu telah ditanggapi sebagai semacam inquisition (hukuman karena menyalahi paham ajaran gereja) dari kelompok kepadrian yang anti-nuklir.
Namun terdapat tanda-tanda bahwa sikap itu sedang berubah, bahkan sikap di antara para pelaksana kampanye yang paling getol. Saya menghadiri Pertemuan Iklim Kyoto di Montreal pada bulan Desember 2005, di situ saya berbicara di depan hadirin yang memenuhi ruangan tentang pertanyaan masa depan energi yang berkelanjutan. Saya memberi argumen bahwa satu-satunya jalan untuk mengurangi emisi bahan-bakar fosil dari pembangkitan listrik adalah melalui program yang agresif dalam penggunaan energi terbarukan (hidro, geotermal, pompa-panas dan angin) plus nuklir. Juru bicaraGreenpeace adalah orang pertama yang mengambil mikrofon pada saat acara tanya-jawab dan saya mengira akan mendengar kata-kata keras darinya. Tetapi sebaliknya, ia mulai dengan mengatakan bahwa ia menyetujui banyak hal yang saya sampaikan, kecuali tentu saja, potongan plus nuklir itu. Biarpun demikian, saya telah dapat merasakan bahwa pijakan bersama sangatlah mungkin dicapai.
Energi angin dan matahari mempunyai tempat di sini, tetapi karena tidak selalu kontinu dan tidak dapat diprediksi, maka kedua jenis energi itu tentu tidak dapat mengganti pembangkit listrik beban-basis yang besar seperti pembangkit listrik: batubara, nuklir dan listrik-hidro. Gas-alam kini sudah terlalu mahal, dan harganya begitu mudah berubah sehingga sangat berisiko apabila digunakan sebagai pembangkit listrik beban-basis yang besar. Kalau sumber listrik-hidro biasanya dibangun untuk kapasitas besar, maka nuklir digunakan sebagai ganti eliminasi batubara, merupakan satu-satunya substitusi yang dapat diperoleh dalam skala besar, sepadan dalam ongkos (cost effective) dan aman. Begitu sederhana!
Memang, bukan tidak ada tantangan nyata, juga bukan tidak ada berbagai mitos yang berkaitan dengan energi nuklir. Masing-masing mitos itu perlu dipertimbangkan:
-
Mitos 1: Energi nuklir itu mahal
Fakta: Energi nuklir adalah satu di antara sumber energi yang tidak-mahal. Di tahun 2004, rata-rata ongkos produksi listrik di Amerika Serikat adalah kurang dari dua sen per kilowatt-jam, setingkat dengan ongkos batubara dan listrik-hidro. Kemajuan dalam teknologi akan menurunkan lagi ongkos itu di masa mendatang. -
Mitos 2: PLTN itu tidak aman
Fakta: Kalau dapat dikatakan bahwa kecelakaan Three Mile Island itu suatu kisah sukses, maka kecelakaan di Chernobyl itu tidak dapat dikatakan demikian. Kecelakaan Chernobyl itu sepertinya menunggu akan terjadi. Model awal dari reaktor Uni Soviet tidak menggunakan bejana kontenmen (sungkup, containment vessel), dalam hal desain dikatakan sebagai tidak-aman melekat, sedang operatornya kemudian meledakkannya.
Forum multi-lembaga PBB untuk Chernobyl tahun lalu melaporkan bahwa hanya 56 kematian dapat dikaitkan dengan kecelakaan itu, sebagian besar korban adalah akibat radiasi atau luka-bakar sewaktu memadamkan api. Memang tragis sekali korban kematian itu, namun angka itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kecelakaan di tambang batubara sebanyak 5000 jiwa seluruh dunia setiap tahun. Atau jika dibandingkan dengan 1,2 juta jiwa yang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan mobil. Tidak seorangpun meninggal dalam sejarah program nuklir untuk sipil di Amerika Serikat. (Disayangkan, bahwa ratusan pekerja tambang uranium meninggal pada tahun-tahun awal industri ini. Hal itu telah sejak lama diperbaiki). -
Mitos 3: Sampah nuklir itu akan berbahaya selama ribuan tahun
Fakta: Dalam 40 tahun, bahan bakar yang telah digunakan hanya akan memancarkan seperseribu radioaktivitas dibandingkan pada waktu bahan bakar itu dikeluarkan dari reaktor. Dan sebenarnya sangatlah tidak benar jika dikatakan itu sebagai sampah (atau limbah), karena 95% potensi energinya masih tersimpan di dalam bahan bakar bekas pada siklus pertama.
Sekarang Amerika Serikat telah mencabut larangan daur-ulang bahan bakar nuklir bekas, dengan demikian akan dimungkinkan pemanfaatan energi itu serta akan banyak mengurangi jumlah sampah yang harus diolah atau disimpan. Bulan lalu, Jepang telah bergabung dengan Perancis, Inggris dan Rusia dalam kegiatan daur-ulang bahan bakar nuklir ini. -
Mitos 4: Reaktor nuklir itu rawan terhadap serangan teroris
Fakta: Beton bertulang yang tebalnya satu-setengah meter melindungi isi bangunan kontenmen dari luar maupun dari dalam. Bahkan kalau sebuah jumbo jet menabrak reaktor dan merusak kontenmen, reaktor tidak akan meledak. Ada banyak jenis fasilitas yang lebih rawan termasuk pabrik pencairan gas alam, pabrik kimia dan sejumlah sasaran politik. -
Mitos 5: Bahan-bakar nuklir itu dapat dialihkan untuk membuat senjata nuklir
Fakta: Senjata nuklir sudah tidak lagi harus tak-terpisahkan dengan PLTN. Teknologi centrifuge (teknologi pengkayaan uranium-235) kini memungkinkan suatu negara memperkaya uranium tanpa harus membangun reaktor nuklir. Iran misalnya, tidak memiliki reaktor yang menghasilkan listrik, padahal negara ini telah memiliki kemampuan membuat bom nuklir. Ancaman senjata nuklir Iran sama sekali dapat dibedakan dari pembangkit energi nuklir untuk maksud damai.
Selama 20 tahun, satu di antara alat yang paling sederhana “perang” telah dipakai membunuh jutaan manusia di Afrika, jauh lebih banyak dari pada korban yang meninggal di Hiroshima dan Nagasaki (digabungkan). Tetapi toh tidak seorangpun yang mengusulkan untuk melarang perang, karena perang adalah alat yang sangat berharga di negara berkembang.
Satu-satunya pendekatan pada isu penyebaran senjata nuklir adalah menempatkan isu itu pada agenda internasional yang lebih tinggi dan menggunakan diplomasi dan bila perlu kekuatan, untuk menghalangi pemerintahan atau teroris dari pemakaian bahan nuklir untuk tujuan perusakan. Teknologi baru, seperti misalnya sistem proses-ulang yang akhir-akhir ini diperkenalkan di Jepang (yang tanpa proses pemisahan plutonium dari uranium) akan membuat pembuatan senjata nuklir dengan menggunakan bahan nuklir keperluan sipil, menjadi lebih sulit.
Lebih Bersih dan Lebih Hijau
Sebagai bonus (tambahan) dalam mengurangi emisi gas rumah-kaca serta menggeser pengandalan bahan bakar fosil, energi nuklir menawarkan dua manfaat yang ramah-lingkungan sekaligus.
-
Listrik nuklir menawarkan jalan yang penting dan praktis ke arah “keekonomian hidrogen“. Hidrogen sebagai sumber yang menghasilkan listrik menawarkan janji untuk energi yang bersih dan hijau. Berbagai perusahaan mobil melanjutkan pengembangan sel bahan bakar hidrogen (fuel cell) dan diproyeksikan teknologi ini, dalam waktu yang tidak terlalu jauh di masa depan, akan menjadi produsen sumber energi. Dengan menggunakan kelebihan energi panas dari reaktor nuklir untuk menghasilkan hidrogen, maka dapat diciptakan produksi hidrogen dengan harga terjangkau, efisien, serta bebas dari emisi gas rumah-kaca. Dengan demikian produksi hidrogen ini dapat dikembangkan untuk menciptakan ekonomi energi hijau di masa depan.
-
Di seluruh dunia, energi nuklir dapat menjadi solusi terhadap krisis lain yang tengah berkembang: kekurangan air bersih yang harus tersedia bagi konsumsi manusia dan irigasi bagi tanaman dasar (crop). Secara global, proses desalinasi air-laut telah dan tengah dipakai guna membuat air bersih. Dengan menggunakan kelebihan panas dari reaktor nuklir, air laut dapat ditawarkan, sehingga permintaan terhadap air bersih yang selalu bertambah akan dapat dipenuhi.
Kombinasi energi nuklir, energi angin, geotermal dan hidro adalah cara yang aman dan ramah-lingkungan dalam memenuhi permintaan energi yang selalu bertambah. Dengan berbagi informasi, jaringan konsumen, pakar lingkungan, akademisi, organisai buruh, kelompok bisnis, pemimpin masyarakat dan pemerintah kini telah disadari manfaat dari energi nuklir.
Energi nuklir adalah jalan terbaik untuk menghasilkan listrik beban-dasar yang aman, bersih, dapat diandalkan, serta akan memainkan peranan kunci dalam pencapaian keamanan (penyediaan) energi global. Dengan perubahan iklim sebagai puncak agenda internasional, kita semua harus mengerjakan bagian kita untuk mendorong renaisans (kebangkitan kembali) energi nuklir.
Patrick Moore adalah seorang pakar ekologi dan lingkungan. Ia memulai kariernya sebagai seorang aktivis dan pendiri Greenpeace, di mana ia menempati jabatan puncak selama 15 tahun. Dr. Moore dahulu mendirikan perusahaan asalnya Greenspirit Enterprises dan sekarang adalah Ketua dan Pakar Utama dari Greenspirit Strategies Ltd, yang berbasis di Vancouver dan Winter Harbour, Canada.
Website: www.greenspiritstrategies.com
E-mail: pmoore@greenspirit.com
Ditulis: 12 Agustus 2007 pada kategori Nuklir.
Komentar: 19






Komentar
Komentar dari Thomas
Waktu: 13 Agustus 2007, 6:38 pm
Terdapat teknologi reaktor brending, yang memungkinkan sisa bahan bakar dapat didaur ulang lagi. Tetapi penggunaan teknologi tersebut membuat pembangkitan listrik dengan nuklir menjadi tidak ekonomis.
Komentar dari ctrlz
Waktu: 29 Agustus 2007, 4:41 am
‘Forum multi-lembaga PBB untuk Chernobyl tahun lalu melaporkan bahwa hanya 56 kematian dapat dikaitkan dengan kecelakaan itu, sebagian besar korban adalah akibat radiasi atau luka-bakar sewaktu memadamkan api.’
apa nggak salah nih?? hanya 56? pake hanya lagi..gimana sih patrick moore… yang mati seketika emang segitu…
tapi radiasinya sampe sekarang dan berabad-abad….
jutaan orang udah mati karna kanker gara2 chernobyl disaster..
Komentar dari Nur Setianto
Waktu: 31 Agustus 2007, 7:07 am
Artikel yang sangat bagus…
Memang sepertinya energi nuklir merupakan pilihan yang ‘terbaik’ saat ini sebagai salah satu alternatif substitusi energi fosil yang jumlah konsumsi pertahunnya semakin bertambah.
Rasa-rasanya jika bergantung pada energi terbarukan lain -angin, surya, dsb- konsumsi kebutuhan energi kita belum dapat terpenuhi, seperti yang dijelaskan diatas dengan jumlah yang tidak kontinu dan tidak dapat diprediksikan.
Jika kita bicara substitute energi fosil secara keseluruhan mungkin kita bisa dapatkan jawabannya di nuklir ini…who knows? then let’s find th answers !!
salam//..
Komentar dari Thomas
Waktu: 2 September 2007, 8:47 am
Apabila saudara ctrlz dapat menunjukkan data-data yang lebih detail untuk kecelakaan Chernobyl, itu akan lebih memperkaya pengetahuan kita mengenai keamaanan teknologi nuklir.
Komentar dari Elsa
Waktu: 2 September 2007, 2:11 pm
Kritikan untuk saudara Thomas, teknologi breeding merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki PLTN, dengan teknologi ini, sisa2 material yang dihasilkan suatu PLTN bisa diolah lebih lanjut sehingga bisa digunakan sebagai bahan bakar nuklir yang baru… so, dengan teknologi ini PLTN akan menjadi lebih ekonomis…
Komentar dari nuclear_fans
Waktu: 10 September 2007, 2:33 pm
setuju bgt ama mbak elsa….dengan teknologi breeding membuat PLTN makin ekonomis,kalo dah ekonomis ya..listriknya makin murah..kan yang untung rakyat..gimana????daripada pake yang konvensional kayak PLTU dkk.kan gas buangannya bikin rusak lingkungan mending kita pake nuklir yang udah hitech…(minjam kata pak habudi yang sering nongol di acara Republik Mimpi)udah listriknya murah, ramah lingkungan lagi…ngapain cari yang susah…gitu aj kok repot (minjam lagi kata2 guspur) he….he…..
Komentar dari STR
Waktu: 16 September 2007, 10:55 pm
Buat Elsa dan Nuclear Fans:
Apa kita punya teknologi breeding itu? Karena setahu saya, untuk enrichment saja Indonesia tidak punya, sehingga kita harus kirim uranium ke luar negeri dulu agar siap dijadikan bahan akar PLTN. Sampai di sini kita sudah punya satu ketergantungan oleh pihak asing. Kalau untuk breeding-nya kita juga harus bergantung lagi sama pihak luar, apa ya kita mau menambah ketergantungan itu? Ntar malah bisa jadi OD …
Komentar dari STR
Waktu: 16 September 2007, 11:01 pm
Oya, mengenai statement Patrick Moore di awal tulisan, memang betul itu (energi nuklir nggak memancarkan efek gas rumah kaca). Tapi perlu diingat juga bahwa nuklir memancarkan radiasi yang mahaberbahaya.
*hanya bermaksud memoderasi statement awal tulisan ini agar tidak menyesatkan*
Komentar dari bumi
Waktu: 26 Oktober 2007, 7:25 pm
wah-wah nampaknya kita terjebak ketika bilang energi nuklir tidak menghasilkan gas rumah kaca. mari kita berhitung…
pertama, kita menggunakan asumsi bahwa reaktor nuklir itu telah eksis (ada) sehingga kita tidak menghitung berapa gas rumah kaca yang dilepaskan ketika membangun reaktor tersebut?
kedua, memangnya uranium itu datang begitu saja dari langit? darimana asalnya? tambang juga kan? dan butuh sarana pengangkutan dari tempat penambangan tersebut ke reaktor nuklir…emang sarana pengangkutan itu ga mengeluarkan gas rumah kaca? ga mungkin kan uranium itu terbang sendiri??
ketiga, sampah nuklir itu akan dibawa kemana? apa bisa hilang begitu saja? kan perlu pengangkutan juga kan??
keempat, kita berbicara dalam konteks indonesia…gardu listrik aja bisa meledak karena kita tidak disiplin, apalagi reaktor nuklir.
kelima, indonesia adalah kawasan rawan bencana, apakah sudah diperhitungkan bagaimana mencegah bencana alam sehingga tidak merusak reaktor nuklir?
keenam, kita berbicara lebih politis…reaktor nuklir selalu dijaga oleh militer, ter-sentralistik, zero kelalaian…berarti dengan menggunakan tenaga nuklir berarti kita sedang membentuk masyarakat polisi.dan negara memang punya maksud kenapa listrik itu harus tersentralistik dan hanya boleh disediakan oleh penguasa. ini berkaitan untuk membentuk ketertundukan warga negara sehingga mudah dikontrol….
mohon dijawab…
terima kasih
Komentar dari andhy
Waktu: 31 Oktober 2007, 3:04 pm
yang jadi pertanyaan, bagaimana nasib kita tanpa energi??
saat ini, nuklir tetap opsi terbaik untuk pembangkit skala besar. keamanan?? kita tanya ke three mile island dan Dr.Andang (dosen jurusan teknik fisika ugm) yang baru saja menemukan reaktor generasi keempat alias reaktor terbaik di dunia
Komentar dari bumi
Waktu: 5 November 2007, 7:37 pm
to: Andhy
hahaha,
kita ga krisis energi tapi krisis pemikiran alernatif dan political will penguasa.
Yang saya tanyakan, apa rasionalisasi dari pernyataan “saat ini, nuklir tetap opsi terbaik untuk pembangkit skala besar”???
masak masiswa main ‘pokok’e’ tanpa bisa menjelaskan!
Klo belum menguasai jangan dipamerin gitu donk, malah pake melemparkan jawaban ama orang yang ga ada di forum.
ya klo saya kuliah di ugm (bisa langsung tanya ybs) bagaimana jika saya tidak kuliah disana?!
Apa begitu memang cara mahasiswa sekarang dalam menjawab pertanyaan?? Saya rasa semua pertanyaan saya diatas belum terjawab.
Mohon dijelaskan, karena saya orang yang ga tau apa-apa.
makasi
Komentar dari Thomas
Waktu: 8 November 2007, 7:57 pm
Kontruksi instalasi nuklir masih menggunakan teknologi yang berbahan bakar fosil. Saya setuju
Pengangkutan dan penambangan uranium membutuhkan alat transportasi konvensional berbahan bakar fosil.
Yang saya setuju adalah apabila secara total kita membandingkan pembangkitan listrik dari nuklir dan fosil, maka nuklir menawarkan emisi CO2 yang lebih rendah.
Komentar dari rachmawan
Waktu: 9 November 2007, 5:56 pm
sip. jangan pernah lelah menjajakan energi terbarukan…
Komentar dari Salmon
Waktu: 22 November 2007, 12:49 pm
Well… Saya rasa peralihan PLT non Nuklir ke PLTN akan terasa sangat keras. Seperti yang kita ketahui bersama, reaksi masyarakat sangat beragam. Ada yang setuju, ada juga yang menolak mentah-mentah. Pandangan saya nuklir dalam kaitannya dengan Pemabangkit Listrik hanya sebagai komoditas politik saja. Siapa sih yang tidak mau listrik murah ? Sedangkan oposisi pasti akan gencar menolak PLTN. Apalagi jika pihak asing ikut terlibat bahkan merupakan pemain penting.
Jika melihat teknologinya saya rasa bagus tetapi jika berkaca dengan SDM yang kita miliki kok rasanya seperti dipaksakan. Saya mendukung PLTN jika kita benar-benar sudah siap. Masalahnya kapan ???
Saya tidak meragukan intelektualitas bangsa sendiri hanya saja mentalitas yang masih saya pertanyakan.
Komentar dari andhy
Waktu: 26 Februari 2008, 2:04 pm
“to: Andhy
hahaha,
kita ga krisis energi tapi krisis pemikiran alernatif dan political will penguasa.
Yang saya tanyakan, apa rasionalisasi dari pernyataan “saat ini, nuklir tetap opsi terbaik untuk pembangkit skala besar”???
masak masiswa main ‘pokok’e’ tanpa bisa menjelaskan!
Klo belum menguasai jangan dipamerin gitu donk, malah pake melemparkan jawaban ama orang yang ga ada di forum.
ya klo saya kuliah di ugm (bisa langsung tanya ybs) bagaimana jika saya tidak kuliah disana?!”
Saya sendiri saat ini kuliah di UGM dan mempelajari berbagai macam pembangkit. Dari kuliah selama 6 semester, harus diakui bahwa PLTN memang yang paling visible untuk Pembangkit skala besar. Saya sendiri bukannya pesimis dengan energi terbarukan. Wong saat ini saya memiliki beberapa program tenaga matahari.
Yang perlu diperhatikan, apa iya bisa dibuktikan bahwa kematian akibat kanker semuanya berasal dari chernobyl disaster?? Yang perlu kita tahu, kita setiap harinya menerima radiasi kosmis/alami jauh lebih besar dari yang diterima seseorang yang bekerja di PLTN. Bahkan mungkin kita harus melarang keberadaan pesawat terbang karena mereka yang terbang akan terkena radiasi 10x dari yang diterima pekerja di PLTN. Masih ditambah mereka yang bekerja di ruang rontgen rumah sakit. Apa iya kita melerang mereka bekerja?? Apa iya kita melarang metode rontgen?? Karena dari yang saya pelajari, mereka yang melakukan rontgen menerima radiasi yang sangat besar.
Mari berpikir dengan jernih. Referensi saya terlalu banyak untuk disebutkan….
Komentar dari ezzy
Waktu: 26 Februari 2008, 7:38 pm
yupz,.
sepanjang yang saya ketahui , energi nulir dapat menghasilkan kalor yang cukup tinggi,. jdi untuk pembangkit listrik tenaga besa, energi nuklir sangat2 visible,.
setiap pekerjaan pasti ada resikonya,.jadi kita belum2 sudah memikirkan ini-itu qta pikiran qta akan tertutup dan g akan pernah bs mencoba,.qta harus selalu memandang masalah secara obyektif
saya adalah mantan penentang PLTN yg sekarang pro PLTN karena saya telah sedikit mempelajari teknologinya,.kenapa anda tidak mencoba mempelajarinya??
Komentar dari anti nuklir dari fistek 07
Waktu: 5 Mei 2008, 11:52 pm
udah cukup kita ngerusak alam, bumi ini sudah hancur, haruskah kita menghancurkan lagi… saia gak akan setuju sama nuklir.
bumi kita udah ngalamin global warming, sebabnya tentu tau smua, apalagi dengan adanya nuklir.
inilah masanya kita harus kembali ke alam, manfaatkan energi alam, jangan melawan alam,
kalo masalah energi, gampang aj, tinggal hemat energi, kita liat contohnya, prancis,, beberapa waktu yang lalu, prancis mengadakan pemadaman listrik total, dimana semua listrik harus di matikan selama lima menit, bahkan lampu menara eifel ikut dimatikan. hanya 5 menit melakukan itu, tau dampaknya? ternyata prancis bisa menghemat listrik sebanyak 800 MEGAWATT, dan itu setara dengan 1 buah pembangkit listrik tenaga nuklir!!
s0 kalo aj bangsa kita bisa berhemat listrik, tentu akan setara dengan banyak pembangkit nuklir, dan saya kira berhemat jauh lebih baik daripada nuklir,
selain itu masih ada energi terbarukan, kan?
so kesimpulannya GAK ADA TEMPAT BUAT NUKLIR!!!!
Komentar dari K
Waktu: 28 Mei 2008, 1:32 pm
buat anti nuklir fistek 2007
ni aku yg goblok ato masnya yg gak ngerti tulisan itu artinya apa y..
gampangnya gni, kalo hemat 5 menit setara 1 PLTN, hemat 30 mnt 6 PLTN, gtu…. lha trus prancis mati lampu selamanya dong… wong mreka tergantung ma PLTN.
5 mnt hemat 1 PLTN, jadi PLTN tu ternyata cuman beroperasi selama 5 menit doang y.
terus terang aku bingung…!!! maklum dulu DO.
kalo emang PLTN cuman beroperasi 800 MW, berarti saya masuk TOLAK PLTN!
Pingback dari Terjemahan artikel tentang nuklir : Nuclear Re-Think, by Patrick Moore « Syeilendra Pramuditya
Waktu: 4 September 2008, 7:48 am
[…] Direct source : http://kamase.org/2007/08/12/pemikiran-ulang-tentang-nuklir/ […]
Tulis komentar