Menu utama:


KAMASE English Version
  • Polling

    • Yakinkah Anda energi terbarukan akan berkembang pesat di Indonesia?

      Lihat Hasil

      Loading ... Loading ...
  • Online Guests

  • Most Users Ever Online Is 56 On 2nd December 2008, 18:02

    Users: 1 Guest
    Users Browsing This Page: 1 (0 Members, 1 Guest and 0 Bots)

    Komentar Baru

    Search Engine Optimization

    Pesan Sponsor

  • Kategori Artikel

    Artikel Populer

    Arsip Artikel

    HYDROGEN-FC

    1. Automation Division at PT. SIER
    2. Excellent HMI of Wonderware Intouch 10 and Archestra Patch 03
    3. My International Project
    4. Plastic Waste Cleaning in Untung Jawa Island
    5. Similarity of Hydrogen and Electric Power

    File Download

    Meta

    Permasalahan Transportasi Darat di Yogyakarta

    macet_jogja.jpgSaat ini kota Yogyakarta sedang manghadapi masalah yang cukup rumit berkaitan dengan transportasi darat. Jumlah penduduk yang semakin bertambah, dibarengi dengan meningkatnya daya beli masyarakat terhadap kendaraan bermotor memicu meningkatnya jumlah kendaraan bermotor.

    Sumber dari PUSTRAL menyatakan, di kota Yogyakarta, rata-rata setiap bulannya terjual 6000 sepeda motor. Sepeda motor adalah transportasi yang dominan di kota Yogyakarta yaitu 79,72% dari 211.322 kendaraan pada tahun 2001. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor roda dua di kota Yogyakarta telah menggantikan alat transportasi lain misalnya bus yang hanya beroperasi sebanyak 591 bus dan dapat kita cermati banyak yang hanya mengangkut sedikit penumpang.

    pertumbuhan_kendaraan.jpgSecara umum, pertambahan sepeda motor memang lebih pesat dibandingkan kendaraan roda empat. Setiap tahun, jumlah kendaraan roda dua bertambah sekitar 11,8 persen, sementara kendaraan roda empat hanya 6,9 persen. Berdasarkan data Polda DIY, jumlah kendaraan bermotor terbanyak berada di kota Yogyakarta, yaitu 275.590 unit atau 28,23 persen dari total jumlah kendaraan bermotor (2005). Padahal, panjang jalan di kota hanya 224,86 kilometer. Tak heran, di sejumlah ruas jalan vital, seperti jalan Malioboro dan sekitarnya kerap terjadi kemacetan yang cukup panjang.

    Gas buang kendaraan bermotor seperti CO, CO2 dan Timbal (Pb) menimbulkan masalah pernafasan dan kesehatan. Meningkatnya jumlah CO2 yang dilepas ke atmosfer semakin meningkatkan efek rumah kaca dengan semakin meningkatnya suhu udara.

    emisi_jogja.jpg

    Institut for Transportation and Development Policy (ITPD) Amerika Serikat pada tahun 2003 menyatakan bahwa emisi gas buangan dari kendaraan bermotor di kota Yogyakarta yang berupa hidrokarbon sudah melebihi ambang batas baku mutu udara ambient nasional yang ditetapkan pada PP RI No 41 tahun 1999 yaitu sebesar 160 ug/m3.Udara kota Yogyakarta pun semakin hari semakin panas, padahal Yogyakarta terletak tidak jauh dari Gunung Merapi, tetapi suhu udaranya sangat jauh berbeda dengan suhu udara pegunungan yang menyejukkan. Jika anda adalah penduduk asli kota Yogyakarta, maka anda akan sangat merasakan peningkatan suhu kota ini dahulu dengan sekarang. Salah satu penyebab meningkatnya suhu di kota ini adalah efek rumah kaca, apalagi jika anda terjebak macet pada siang hari diantara himpitan kendaraan-kendaraan bermotor yang ada disekitar, anda bukan hanya merasakan panas matahari yang menyengat dan efek rumah kaca, tetapi anda juga akan merasakan panasnya knalpot kendaraan bermotor yang ada disekitar anda.

    Ditinjau dari sisi konsumsi energi pada sektor transportasi, sektor ini merupakan pengkonsumsi energi terbesar setelah sektor industri dan rumah tangga. Apalagi dapat kita cermati bahwa khusus untuk kota Yogyakarta yang bukan merupakan kota industri, tentunya sektor transportasi berpeluang lebih besar untuk menjadi sektor pengkonsumsi energi di Yogyakarta.

    Secara umum dapat disimpulkan bahwa permasalahan transportasi di kota Yogyakarta dipengaruhi oleh:

    1. Tidak seimbangnya pertambahan jaringan jalan serta fasilitas lalulintas dan angkutan bila dibandingkan dengan pesatnya pertumbuhan kepemilikan kendaraan yang berakibat pada meningkatnya volume lalu lintas.
    2. Meningkatnya mobilitas orang, barang, jasa dan pariwisata.
    3. Kurang disiplinnya pengemudi.
    4. Menurunnya kondisi fisik angkutan.
    5. Permasalahan tarif dan rute atau trayek.
    6. Manajemen lalulintas yang kurang baik.
    7. Ketidakterpaduan pengelolaan sistem transportasi.
    8. Pengembangan kota yang tidak diikuti dengan sturktur tata guna lahan yang serasi (tata ruang belum terpadu).
    Solusi bisnis ENERGI dari KAMASE CARE

    Komentar

    Komentar dari iirrrrr
    Waktu: 8 September 2008, 4:48 pm

    :sad: :???: katanya ‘pemilihan moda’ susah yaaa???? huaaaaa….aaa… bantuin dong.. skripsi ku itu neh…. :???: :???:

    Tulis komentar