Menu utama:


KAMASE English Version
  • Polling

    • Yakinkah Anda energi terbarukan akan berkembang pesat di Indonesia?

      Lihat Hasil

      Loading ... Loading ...
  • Online Guests

  • Most Users Ever Online Is 18 On 20th December 2007, 14:47

    Users: 1 Guest
    Users Browsing This Page: 1 (0 Members, 1 Guest and 0 Bots)

    Komentar Baru

    Search Engine Optimization

    Pesan Sponsor

  • Kategori Artikel

    Artikel Populer

    Arsip Artikel

    HYDROGEN-FC

    1. Conventional Hydrogen
    2. Maglev - Gigantic Wind Turbine
    3. My International Project
    4. My Working at PT. SIER
    5. Reach to Hydrogen Era

    File Download

    Meta

    Sepeda sebagai Alternatif Transportasi Darat di Yogyakarta

    sepeda_hijau.jpgCoba kita tengok kembali tiga dasawarsa yang lalu, dimana dahulu Yogyakarta terkenal dengan “pit ontel” nya. Pada tahun 1950 hingga tahun 1970-an, sepeda menjadi alat transportasi dominan di Yogyakarta. Dahulu sepeda adalah alat transportasi yang paling disukai karena di samping murah juga menyehatkan badan dan tanpa bahan bakar minyak.

    Namun seiring dengan modernitas yang sukses mengubah gaya hidup dari kehidupan semi romantis menuju kehidupan yang total pragmatis, sepeda pun makin lama makin terkikis. Kini, sepeda cenderung hanya dimiliki para pekerja kasar, “simbok - simbok bakul” dan lainnya. Maka sepeda pun bergeser dari kesederhanaan menjadi “kemiskinan” atau “keterbelakangan”. Orang - orang pun malu naik sepeda. Mereka tidak lagi malu, kalau sepeda yang dimiliki adalah sepeda sport yang harganya ratusan ribu bahkan jutaan. Sepeda kumbang, “pit onta” dan sepeda jengki mengonggok di gudang masa silam. Pragmatisme telah “membunuh” sepeda. Kemanakah wajah kota ini yang dahulu begitu indah, ramah dan menyejukkan, sekarang berubah menjadi wajah yang suram karena asap kendaraan bermotor, kemacetan dan “kesemerawutan” lalu lintas.

    sultan_bersepeda.jpgSultan Hamengku Buwono X bersama Rektor UGM, UNY, UII, Atmajaya dan Sanata Dharma mendeklarasikan “Jogjakarta Gembira Bersepeda” di Balairung Universitas Gadjah Mada, Jumat (1/9/2005). Acara Deklarasi yang digagas oleh Jaringan Sepeda Hijau Kampus, didukung 5 kampus di Jogja, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Atmajaya, dan Universitas Sanata Dharma. Selain melakukan konvoi bersepeda yang di awali dari kampus Atmajaya dan berakhir di UGM, di setiap kampus, Sultan Hamengku Buwono X beserta rektor tiap universitas, menanam pohon untuk sebagai simbol gerakan peduli lingkungan.

    jenis_moda_transport.jpgKota-kota di Cina seperti Tianjin dan Shenyang menempati prosentase terbesar yakni sekitar 77% dan 65% penduduk yang mengendarai sepeda untuk perjalanan mereka. Urutan ketiga terbesar adalah kota Groningen di negeri Belanda dengan jumlah prosentase 50% penduduk yang mengendarai sepeda untuk perjalanan keseharian mereka. Kemudian berturut-turut Beijing di China (49%), Dhaka di Bangladesh (40%), Erlangen di Jerman (26%), Odense di Denmark (25%), Moscow di Rusia (24%), New Delhi di India (22%), Copenhagen di Denmark dan Basel di Switzerland (20%), Strasboug di Perancis (15%), dan lain-lain. (WALCYNG, Report 1. no.4, 1997).

    Kenapa dengan jalur khusus sepeda?

    Hal yang menjadi alasan untuk membangun jalur khusus sepeda antara lain:

    1. Jalur khusus sepeda memberikan prioritas bagi pengendara sepeda dalam pemanfaatan ruang jalan. Jika kendaraan bermotor yang boros energi, boros ruang dan menimbulkan polusi (suara maupun udara) mempunyai jalur khusus, mengapa pengendara sepeda tidak diberi jalur khusus, padahal sepeda adalah kendaraan yang hemat energi, hemat ruang dan ramah lingkungan.
    2. Kapasitasnya bersifat fleksibel dari mulai satuan hingga dapat mendekati kapasitas sebesar puluhan pengendara per arah per jam.
    3. Biaya investasi pembangunan yang dibutuhkan relatif sangat rendah. Sehingga, biaya investasi jalur khusus ini dapat dipenuhi dari anggaran pemerintah tanpa membuat utang baru pada negara lain. Selain itu rendahnya nilai investasi dapat mempercepat pencapaian titik impas dan nilai tarif layanan dapat ditekan.

    Namun keberhasilan sistem ini mempersyaratkan :

    1. Suasana yang mendukung untuk bersepeda yaitu dengan di bangunnya jalur hijau disepanjang jalan.
    2. Peraturan lalu lintas dan rambu-rambu yang jelas bagi pengendara sepeda.
    3. Tidak adanya diskriminasi dan prioritas bagi salah satu jenis alat transportasi. Bahkan jika pejalan kaki menggunakan jalur khusus sepeda, maka akan dikenai sanki, apalagi pengendara bermotor yang menggunakan jalur sepeda.
    4. Integrasi dengan sistem pendukung lain seperti jaringan pengumpan (feeder system), agar pengendara sepeda dengan jarak yang terlalu jauh dapat menggunakan alat transportasi umum seperti bus dan kereta.
    5. Penyediaan sarana terkait seperti tempat parkir, bengkel sudut kota yang membuka peluang kerja serta pompa angin gratis.
    6. Adanya asuransi khusus untuk kehilangan sepeda dan kecelakaan.

    Bagaimana dengan Proyek Jalur Sepeda di Yogyakarta?

    parkir_salah.jpgBeberapa tempat telah dibangun jalur khusus bagi pengendara sepeda, seperti di seputaran boulevard kampus UGM. Tetapi jalur tersebut masih terlihat sepi dari sepeda, karena pembangunan jalur sepeda tersebut tidak diiringi dengan sosialisasi yang baik serta tidak didukung oleh persyaratan-persyaratan seperti telah disebutkan diatas. Target minimal yang harus dapat diperoleh dari pelaksanaan proyek jalur khusus ini adalah :

    1. Mulai adanya jaminan kualitas bagi masyarakat yang selama ini menggunakannya dan hal ini harus terus dipelihara.
    2. Timbulnya kesadaran para pengguna kendaraan bermotor, yang selama ini selalu mendapatkan prioritas penyediaan fasilitas, bahwa sudah saatnya mereka sekarang mulai memberikan prioritas bagi kepentingan masyarakat pengguna sepeda dan pejalan kaki.
    3. Awal perbaikan sistem transportasi yang masih harus ditindak lanjuti dengan perencanaan dan pengembangan lebih lanjut.
    4. Awal reformasi penyelenggaraan jalur khusus melalui pembentukan Badan Pengelola yang transparan, modern, berbasis pada kualitas pelayanan dan kesinambungan usaha yang sehat. Yang harus segera disusul dengan pembentukan Dewan Trasnportasi Kota sebagai bentuk partisipasi publik dalam penetapan kebijakan bidang transportasi.

    Ajakan untuk semua

    Kita semua dapat mendukung terciptanya sistem transportasi berkelanjutan di kota Yogyakarta dengan meminta Pemerintah Kota Yogyakarta untuk segera mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Menetapkan landasan hukum pembangunan transportasi yang merupakan kebijakan publik yang mengikat seluruh penyelenggara pemerintahan dan menjadi acuan pelaksanaan program yang berkesinambungan.
    2. Memperbaiki sistem transportasi di kota Yogyakarta. Perbaikan ini meliputi, sistem pengelolaan, perbaikan (restrukturisasi) jalur.
    3. Memperbaiki jaringan jalur khusus yang sinergis dengan perkembangan tata kota dan berbasis pada data kebutuhan masyarakat dan memberikan prioritas terhadap pengendara sepeda. Sistem ini juga harus terintegrasi dengan jaringan pengumpan (feeder system) sehingga menjamin aksesibilitas masyarakat.
    4. Memperbaiki sistem dan sarana kendaraan.

    Hal yang dijadikan pertimbangan masyarakat dalam memilih transportasi sepeda dan solusi untuk mengatasi hal tersebut:

    1. Jarak yang ditempuh terlalu jauh untuk suatu tujuan tertentu. Misalnya jarak dari rumah ke tempat kerja atau ke sekolah tidak memungkinkan untuk menggunakan sepeda. Hal ini bisa dicarikan solusinya yaitu dengan menyediakan perpindahan moda angkutan yang lebih baik serta pengadaan tempat parkir khusus sepeda yang aman di tempat-tempat perpindahan moda angkutan.
    2. Faktor gengsi. Faktor gengsi juga sangat mempengaruhi perilaku masyarakat dalam memilih moda transportasinya. Berkembang pula stigma yang kuat di masyarakat bahwa bersepeda identik dengan kemiskinan sehingga hanya orang miskinlah yang bersepeda.
    3. Tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan dan motivasi diri sangat berpengaruh dalam memilih moda transportasi seperti sepeda, berjalan kaki maupun angkutan masal. Untuk itu perlu kiranya sedini mungkin diberikan pendidikan (edukasi) tentang kelebihan/kebaikan menggunakan sepeda atau berjalan kaki.

    Rancangan Jalur Sepeda

    racangan1.jpgracangan2.jpgracangan3.jpgracangan4.jpg

    Daftar Pustaka

    Solusi bisnis ENERGI dari KAMASE CARE

    Komentar

    Komentar dari cikal
    Waktu: 25 Februari 2008, 5:02 pm

    ass..
    sy tertarik dengan artikel ini..
    sy mohon izin menyalin..
    terima kasih..

    Komentar dari rizal
    Waktu: 7 Maret 2008, 5:58 am

    ass..
    mohon izin untuk menyalin..
    sebagai referensi tulisan saya dimajalah…

    terimakasih..

    wass

    Komentar dari sunarso sugeng
    Waktu: 11 Maret 2008, 3:23 pm

    setuju sekali dengan program pitway.tapi jangan disandingkan dengan jalur kendaraan bermotor.kasihan kan para pengendara sepeda harus menghirup udara yang sudah terpolusi gas buang kendaraan.bukan kesehatan yang kita dapatkan tapi penyakit ispa.jadi bikin jalur pitway yang terpisah jauh dari motorway.dan tanaman yg pelindung yang rindang disepanjang pitway.jadi para pengendara pit akan terasa nyaman isyaallah pak Sultan dan para pimpinan universitas dan para birokrat akan senang bersepeda kalau ke kantor,sehingga sepeda bukan ikon orang miskin.hidup pitway.

    Komentar dari willeke
    Waktu: 4 April 2008, 6:58 pm

    saya sebegai orang Belanda sangat suka naik sepada pancal…karena itu suami saya(orang Malang)dan saya antar anak ke sekolah pakai sepada pancal…awal orang2 pikir aneh tapi sekarang lebih banyak ibu2 bawa sepada begitu…berarti kalau berani duluan pasti ada yang ikut??
    saya juga g merasa malu sama sekali karena lebih sehat dan baik untuk lingkungan….
    katanya research baru dari Belanda…sepeda motor lebih banyak polusi berapa kali lipat daripada mobil…?
    saya memang pikir itu benar…anak kami di Indonesia sudah 2 kali sakit paru2 :cry: ….dan kemarin 2 tahun di Belanda g pernah sakit?

    saya hanya mau tahu satu hal lagi kenapa orang indonesia dengan semua hal santai…hanya kalau naik kendaraan seperti kemasukan setan? :wink:
    kadang2 benar bahaya….saya harap nanti di Malang
    juga ada jalur pitway…supaya dengan aman bisa bersepada pancal…Sukses selalu :grin:
    mohon maaf kalau bahasa indonesia saya g benar

    Komentar dari Thomas Ari Negara
    Waktu: 5 April 2008, 9:00 am

    Kepada Bapak Willeke, sebuah tanggapan yang bagus untuk mengevaluasi sikap hidup kita yang terlalu suka dimanjakan. Dan sikap ini makin tahun kok makin parah yachhh? :?:

    Komentar dari Yulianti Arafah
    Waktu: 8 Juli 2008, 10:44 am

    Mohon Ijin Menyalin Sebagai Referensi

    Komentar dari ricky
    Waktu: 23 Juli 2008, 4:05 pm

    aku salin yah om :lol:

    Komentar dari adiet
    Waktu: 3 September 2008, 8:32 pm

    :lol:
    saya sangat setuju jika di jogja di buat jalur khusus sepeda.dan berharap di bentuk komunitas mahasiswa pecinta sepeda di jogja.

    Tulis komentar